Apa itu keabadian objek?

Artículo revisado y aprobado por nuestro equipo editorial, siguiendo los criterios de redacción y edición de YuBrain.


Permanen objek adalah konsep yang dikembangkan dan dipelajari oleh Jean Piaget pada awal abad ke-20. Ini adalah momen kunci dalam perkembangan anak dan terjadi ketika dia menemukan bahwa suatu objek tetap ada meskipun dia tidak dapat melihatnya.

Siapakah Jean Piaget?

Jean William Fritz Piaget (1896-1980) adalah seorang psikolog Swiss yang terkenal karena penelitiannya tentang perkembangan anak. Ia lahir dan besar di Neuchâtel, sebuah kota di Swiss. Orang tuanya adalah Arthur Piaget dari Swiss dan Rebecca Jackson dari Prancis.

Jean Piaget dicirikan sebagai anak dewasa sebelum waktunya. Dia pertama kali tertarik pada biologi dan kemudian pada epistemologi dan psikologi.

Setelah lulus, Piaget pindah ke Paris dan mulai bekerja di sekolah laboratorium anak-anak yang dijalankan oleh psikolog Prancis Alfred Binet, yang menemukan tes IQ pertama. Piaget membantu Binet dalam merancang pengujian; Pengamatannya tentang jenis kesalahan yang dilakukan anak-anak dari berbagai usia kemudian membawanya untuk mengusulkan teori perkembangan tahapannya.

Belakangan, Piaget kembali ke Swiss dan menikah dengan Valentine Châtenay, yang dengannya dia memiliki tiga anak, yang dia pelajari sejak lahir.

Sepanjang hidupnya, Piaget bekerja sebagai profesor Psikologi, Sosiologi, dan Filsafat di berbagai universitas seperti Universitas Paris dan Universitas Jenewa. Ia juga mengadakan berbagai konferensi di universitas-universitas di Amerika Serikat.

Piaget meninggal pada tahun 1980 di Jenewa, pada usia 84 tahun.

Jean Piaget saat ini dianggap sebagai salah satu pelopor besar teori pengetahuan konstruktivis dan epistemologi genetik, serta referensi penting dalam pedagogi dan pelatihan guru.

Teori perkembangan kognitif

Piaget mengembangkan teori tahapan perkembangan, disebut juga teori perkembangan kognitif, untuk menjelaskan perkembangan kecerdasan dan perolehan pengetahuan sejak seorang anak lahir hingga mencapai usia dewasa.

Untuk merumuskan teorinya, Piaget berangkat dari gagasan bahwa anak-anak bukanlah orang dewasa yang kurang pengetahuan, tetapi mereka berpikir secara berbeda. Dalam studinya, ia mengelompokkan anak-anak dari berbagai usia ke dalam empat tahap dan mengamati bagaimana kemampuan kognitif mereka berkembang.

Piaget percaya bahwa perkembangan kognitif dibentuk oleh proses mental baru yang terjadi sebagai hasil pematangan biologis dan pengalaman anak dengan lingkungannya.

Teori tahap perkembangan mencakup empat tahap:

  • Tahap sensorimotor: berlangsung dari lahir hingga penguasaan bahasa, yaitu sampai kira-kira usia 2 tahun. Pada tahap ini, anak menemukan lingkungannya dan memperoleh pengetahuan melalui tindakan fisik seperti menyentuh dan menghisap. Perkembangan kepermanenan objek juga terjadi.
  • Tahap praoperasional : berlangsung dari usia dua tahun hingga tujuh tahun. Pemikiran anak tetap egosentris dan tidak bisa melihat sudut pandang orang lain. Tahap ini juga ditandai dengan memasukkan permainan simbolik, pemikiran magis dan pemikiran intuitif; Itu adalah saat anak mulai bertanya mengapa sesuatu.
  • Tahap operatif konkrit : terjadi antara usia 7 dan 11 tahun. Tahap ini ditandai dengan pematangan lebih lanjut dari proses mental. Anak belajar menggunakan logika induktif dan dapat memecahkan masalah yang berkaitan dengan objek dan situasi nyata yang konkret.
  • Tahap operasional formal : meliputi periode remaja hingga dewasa. Tahap ini ditandai dengan berkembangnya pemikiran hipotetis-deduktif, pemikiran abstrak, dan pemecahan masalah yang logis dan metodis.

Tahap sensorimotor dan objek permanen

Tahap pertama dalam teori perkembangan kognitif Piaget disebut tahap sensorimotor dan terjadi sejak lahir hingga sekitar usia 2 tahun. Pada tahap inilah bayi mengembangkan apa yang didefinisikan Piaget sebagai “keabadian objek”.

Keabadian objek dimulai sekitar usia 8 bulan dan merupakan kemampuan anak untuk memahami bahwa suatu objek masih ada meskipun objek tersebut tidak lagi dapat dilihat dengan cara apa pun. Artinya, ketika Anda tidak dapat melihat, mendengar, atau menyentuh objek tersebut.

Keabadian objek adalah keterampilan psikologis dan tonggak penting dalam perkembangan anak, karena memungkinkan mereka untuk menyadari dunia di sekitar mereka dan untuk mengetahui bahwa meskipun objek atau orang tersebut meninggalkan bidang penglihatan mereka, itu akan tetap ada.

Tahap sensorimotor dibagi, pada gilirannya, menjadi enam tahap. Di masing-masingnya dihasilkan pencapaian berbeda yang terkait dengan keabadian objek.

Piaget mempelajari dan mendeskripsikan tahap-tahap perkembangan permanensi objek ini melalui pengamatan anak-anaknya sendiri. Untuk melakukan ini, dia melakukan percobaan menyembunyikan berbagai objek. Salah satunya terdiri dari menyembunyikan mainan di bawah selimut sementara bayi melihatnya. Jika anak mencari mainan yang tersembunyi, ini dianggap sebagai tanda berkembangnya keabadian objek. Piaget menyimpulkan bahwa pada umumnya anak-anak mulai mencari mainan tersebut saat mereka berusia sekitar 8 bulan.

Tahapan Pengembangan Kepermanenan Objek

Enam tahap kepermanenan objek selama tahap sensorimotor adalah sebagai berikut:

Tahap pertama: aktivitas refleks

Tahap ini dimulai sejak lahir dan berlangsung hingga bulan pertama. Bayi melatih gerakan refleks mereka dan mengalami dunia melalui mereka. Pencapaian tahap ini adalah: menghisap, mengepalkan tangan dan pemantauan visual.

Tahap kedua: reaksi sirkular primer

Tahap ini terjadi dari bulan pertama hingga empat bulan kehidupan. Bayi belajar melalui “reaksi melingkar”, yang merupakan tindakan baru yang dilakukan bayi dan kemudian mencoba mengulanginya. Mereka adalah skema atau pola tindakan yang membantu mereka memahami lingkungan mereka. Sejauh ini mereka belum mengembangkan rasa keabadian objek. Jika mereka berhenti melihat suatu objek atau orang, mereka mungkin mencarinya sejenak di tempat terakhir kali mereka melihatnya, tetapi mereka tidak akan berusaha menemukannya.

Selain itu, bayi menemukan lengan, tangan, dan kaki mereka serta merespons suara dan pemandangan yang familiar.

Tahap ketiga: reaksi sirkular sekunder

Tahap ketiga dimulai pada empat bulan dan berakhir pada delapan bulan kehidupan. Sejak usia empat bulan, bayi mulai lebih banyak mengamati dan berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Dengan cara ini, ia menemukan makna keabadian benda-benda di luar dirinya.

Pada tahap ini, jika anak berhenti melihat suatu objek, dia akan melihat di mana objek itu berada, dan jika dia menjauh darinya, dia akan dapat menemukannya kembali. Selain itu, Anda akan dapat menemukan mainan meskipun tertutup sebagian.

Tahap keempat: koordinasi reaksi sirkuler sekunder

Antara delapan dan dua belas bulan kehidupan, rasa keabadian objek mulai berkembang dan anak-anak dapat menemukan mainan yang tertutup seluruhnya. Tapi mereka cenderung mencari objek di tempat yang sama di mana objek itu disembunyikan pertama kali. Selama tahap ini anak belum bisa mengikuti pergerakan ke tempat persembunyian yang berbeda.

Pada tahap ini, anak mulai mengoordinasikan dua tindakan atau lebih untuk mencapai tujuan sederhana.

Tahap kelima: reaksi sirkular tersier

Tahap ini berkembang dari dua belas bulan hingga delapan belas bulan kehidupan. Bayi belajar mengikuti pergerakan suatu benda dari satu tempat persembunyian ke tempat persembunyian lainnya, selama mereka bisa mengamati gerakan itu. Mereka juga menciptakan cara berbeda untuk menggunakan objek untuk mendapatkan hasil yang berbeda. Misalnya, membuangnya dengan cara yang berbeda atau memasukkannya ke dalam wadah.

Tahap keenam: pemecahan masalah simbolik

Ini adalah tahap yang berlangsung dari delapan belas hingga dua puluh empat bulan kehidupan. Artinya, dari usia satu setengah tahun hingga dua tahun seorang anak. Di sini, bayi bisa mengikuti gerakan meski tidak melihat mainan berpindah dari satu tempat persembunyian ke tempat persembunyian lainnya. Misalnya, jika sebuah bola menggelinding di bawah sofa, anak mungkin dapat mengetahui jalur yang akan diambil bola tersebut, membiarkannya mencarinya di tempat lain, yaitu di ujung jalur dan bukan di tempat pertama. menghilang. .

Pada tahap ini, anak belajar membayangkan objek dalam pikirannya. Artinya, mereka dapat mewakili objek yang tidak mereka lihat. Mereka juga dapat memahami bahwa mereka adalah individu yang terpisah dari dunia.

Permanen objek di masa kini

Meskipun teori Piaget telah diterima secara luas, hasil studi selanjutnya menunjukkan beberapa ketidaksesuaian.

Poin utama yang dipertanyakan oleh para peneliti yang berbeda adalah usia di mana bayi menunjukkan pemahaman tentang keabadian objek. Misalnya, eksperimen psikolog Reneé Baillargeon dan Julie deVoss menunjukkan bahwa pengertian ini berkembang jauh sebelum usia yang diperkirakan Piaget: kira-kira dari tiga setengah bulan kehidupan.

Juga, para peneliti percaya bahwa pendidikan dan budaya memengaruhi anak lebih dari yang diperkirakan Piaget.

Isu kontroversial lainnya adalah kemungkinan kepermanenan objek berkembang pada anak-anak penyandang disabilitas, karena Piaget percaya bahwa hal itu hanya terjadi ketika faktor atau kondisi esensial tertentu hadir. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa anak-anak penyandang disabilitas memperoleh rasa keabadian objek dengan cara yang mirip dengan anak-anak tanpa disabilitas.

Studi lain menunjukkan bahwa kepermanenan objek tidak hanya merupakan perkembangan penting pada manusia, tetapi juga pada hewan. Terutama kera, kucing, anjing, dan beberapa jenis burung seperti murai dan gagak hitam.

Bibliografi

  • Piaget, J.; Inhelder, B. Psikologi anak. (2015). Spanyol. Morata.
  • Houdé, O. Psikologi anak. (2020). Spanyol. Editorial Populer.
-Iklan-

mm
Cecilia Martinez (B.S.)
Cecilia Martinez (Licenciada en Humanidades) - AUTORA. Redactora. Divulgadora cultural y científica.

Artículos relacionados